“I wanna DIE alone!”

•May 10, 2011 • Leave a Comment

“I wanna die alone!” tiba-tiba kepikiran buat mati saja. Entahlah!

Aku tergopoh-gopoh di malam itu. Mencari dukungan dan bantuan teman. Sebuah pesan menghentakku. “Aku tak percaya lagi dengan hidupku. Apalagi setelah bicara banyak denganmu. Aku semakin tahu siapa diriku. Aku mau pergi saja. Selamat tinggal. Terima kasih!” Entah darimana, aku punya topeng kebijakan untuk kupasang di wajahku. “Jangan bodoh! Allah menciptakan setiap manusia bukan tanpa alasan! Hargai itu!” Menyusul kalimat-kalimat lainnya mirip kata-kata mutiara di buku inspiring. Sebijak itukah aku?? Yang jelas, lega mendapatkannya tersenyum keesokan harinya dan mendapatkan sebuah pesan darinya. “Allhamdulillah. Aku tidak melakukan tindakan bodoh itu semalam!”

Aku terganga di tengah malam. “Hidupku kosong. Aku memang hidup. Tapi tanpa tujuan. Tanpa visi. Aku akan hidup, melewati hari dari pagi buta, siang, sore, malam. Begitu saja. Terulang lagi setiap harinya. Hanya sebagai rutinitas. Tanpa arti. Jadi untuk apa aku hidup?” Dan berlalulah dua jam di ujung malam itu dengan obrolan kami. Setidaknya, aku punya waktu untuk mengulur niatnya mengakhiri hidup. Pasti kemudian dengan suara kebijakan itu. Aku tidak tahu darimana mendapatkannya. “Hidup itu indah. Jika belum indah, ciptakan keindahan itu. Santai saja, aku punya banyak waktu untuk mengganggumu. Gak kangen aku ganggu ta???” Lalu aku tertawa. Seringan itukah aku??? Yang jelas, senang menemukan status-status FB nya mulai berubah genre. Aku tahu, dia baik-baik saja. Allah bersamanya.

Kawan-kawanku. Membuatku bertanya akan jalan pikiran mereka. Mengapa??? Dan aku menemukannya. Titik terapuh kekuatan manusia. Aku ingat Allah. Aku masih sholat. Aku tahu ini pikiran bodoh, idiot, stupid, wawo, cetek, dan sebagainya. Tapi aku menulisnya di anganku. “ … wanna die alone!” Capek, lelah, raga juga jiwa.

Aku masih tertegun. Lantas dengan cara apa aku mati??? Menabrakkan diri ke mobil di jalan depan?? Sungguh akan merepotkan banyak orang. Memutus urat nadi??? Aku takut melihat darah. Mengunyah racun tikus??? Setidaknya aku masih sadar, aku lebih berharga dari binatang. Menuliskan kematianku di lembaran buku “deathnote”??? Aku sedang tidak berada di sebuah film. Lalu??? Aku masih tertegun.

Inbox penuh pesan. Menyusul sebuah posting di akun twitter. “… wanna die alone!!!”. Komentar-komentar candaan [bahkan aku tak dipercaya orang untuk terlihat rapuh]. Petuah-petuah bijak. Motivasi. Inspirasi. Semangat. Oh, God, beginikah caramu menahanku??? Aku meneteskan air mata.

“Aku percaya, suatu saat jalan hidupmu berubah ke arah yang jauh lebih baik, dengan terus bersandar, tawakal hanya kepada Allah. Insha Allah!” Orang lain saja percaya dengan hidupku. Kenapa aku tidak?? Nafasku sesak.

Dhuha. Aku tertegun. Sebelum melangkah bergeser ke tempat yang lebih terang. Rumah Allah. Kaca mataku tak cukup pintar menyembunyikan kerapuhanku. “… wanna die alone??? Siapa aku hingga berani merebut kewenangan Allah??!!” Aku terduduk. Bersujud!”

PNS Mokong : “HUKUM & RANDOM SAMPLING”

•April 27, 2011 • Leave a Comment

“Sampeyan korban RANDOM SAMPLING…” seorang teman berkata dengan ikon senyum, di chat semalam. Hahahaha, aku pun tertawa.

Masih melekat dalam memori kejadian Senin pagi di halaman belakang kantor. Saya adalah seorang dari 11 PNS [kalau gak salah] yang pagi itu disebutkan namanya dengan keras lewat speaker usai apel untuk mendapatkan wejangan khusus. Cukup sudah mengumandang seantero jagad [lebay], dan pasti menambah ketenaran saya yang sudah lumayan. 😛 [setelah ini, saya diwawancarai dimana-mana, hahaha]

Bermula dari kejadian Kamis. Pagi itu, saya ijin untuk tidak mengikuti apel pagi atas alasan khusus. Kebetulan, unit kerja saya dan sebuah unit kerja di lantai atas ketiban sampur untuk disidak pagi itu. Maka masuklah nama saya sebagai salah seorang PNS yang tidak nampak kehadirannya pagi itu. Sekilas saya tahu, saya adalah seorang dari puluhan PNS dari unit kerja saya yang mengirim pesan ijin di hari itu. Maka alangkah terkejutnya saya ketika di sore menjelang pulang, saya dapatkan sebuah surat dari lembaga pengurus kepegawaian mendarat di meja saya dengan daftar nama 4 orang terdakwa [halah] yang Senin pagi berikutnya dikenakan wajib lapor [ 😀 , bahasanya]. Saya salah seorang di antaranya.

Bukan hal aneh sebenarnya, dan penuh kesadaran tinggi, itu memang layak, karena SAYA SALAH. Namun kemudian menjadi aneh [bagi saya] ketika hanya 4 nama yang terdaftar. Lalu kemana puluhan PNS lainnya dari unit kerja yang sama dan sama-sama kedapatan mangkir dari apel di pagi itu bersama saya? Kok …??? Saya pun memencet telpon. Konfirmasi. Inilah perbincangan kami :

Saya      : “Bolehkah saya tahu dasar pemanggilan ini?”

Dia         : “Yang TK [tanpa keterangan].

Saya      : “Bukankah saya ijin?”

Dia         : “Saya cek dulu sebentar … “

Saya menunggu…

Dia         : “Mungkin karena gak ada surat ijin…” [mungkin???]

Saya      : “Saya ijin via sms. Yang lain juga gak pakai surat ijin tuh …”

Dia         : “Mungkin ijin sampeyan terlambat dibanding yang lain…” [aneh, terkesan dicari-cari]

Saya      : “Saya ijin dari sebelum apel…”

Dia         : [nada dongkol] “Kalau gak mau gitu … yo apelo, Mbak!”

Saya      : [mengernyitkan dahi, tertawa] “Saya bukan mau mangkir dari tanggung jawab, saya cuman penasaran, 4 orang yang di daftar sama puluhan orang yang ijin di hari itu yang gak masuk daftar, pembedanya di mana??” [nada sehalus mungkin]

Dia         : Sampeyan tanya Mas … [menyebut nama pejabat] saja, kalau gak terima.

Saya tertawa ngakak … [jawaban yang sungguh … TIDAK TERDENGAR CERDAS di telinga saya]

Senin pagi. Kami para terdakwa berjajar dua baris. Belum sempat saya protes, seorang ibu dari unit kerja di lantai atas itu berteriak dengan nada protes. Aku menunduk, tersenyum [asli menahan tawa, seneng ada yang mewakili, hahaha].

Beliau adalah seorang pegawai yang rajin dalam pengamatan saya. Hampir tiap hari tepat waktu di posisi peletonnya. Kebetulan hari itu si anak lagi sakit. Si ibu terpaksa mengurus sendiri karena si suami yang TNI sedang bertugas di luar kota. “Dalam militer ini tentu saja salah. Jika mau direkap, diskors angka, ada di tempat saya yang tidak apel sama sekali tiap hari … saya punya datanya .. wong saya yang ngabsen …” ibu itu menjelaskan panjang lebar. “Saya sadar saya salah dan patut di sini. Tapi bagaimana dengan mereka. Kami melakukan kesalahan sama, mengapa perlakuannya beda?” [Mmmm..persis yang saya ingin katakan. Hax] Beliau yang di depan pun, terdiam, jika dibaca secara psikologis sepertinya mati gaya … hahaha … orang Jawa bilang, ”Kisinan!”

“Sampeyan korban RANDOM SAMPLING..” Kalimat ini menjawab penasaran saya sepertinya. Belajar dari clue-clue yang ada [macak detektif hehe], jawaban ini sungguh masuk akal. Sayangnya, random sampling yang dilakukan gagal. “Salahnya, ada ahli statistik gak dipakai” komentar temen saya. Hahahha..ada-ada saja.

Menurut saya, akan lain cerita, jika saja, pagi itu, semua PNS yang kedapatan mangkir di sidak hari Kamis dengan alasan ijin [alasan yang sama] di hadapkan secara bersama. Tidak tebang pilih. Karena menurut saya, alasan yang dibuat memang tak cukup kuat. [dibilang ditandatangani temen, dibilang sering ijin]. Jika kebetulan saja kami yang terpilih, maka kebetulan pula bagi instansi itu, jika sebagian besar dari yang terpilih ini adalah orang-orang yang punya catatan bagus di absen apel [saya sih fifty fifty dan memang layak disidang, hahahhaha]. Dan ini adalah langkah politik paling bagus untuk meredam kritik. Pasti akan lebih terlihat anggun dan bijak, daripada harus blingsatan ketika si ibu meminta dicek daftar absennya. Haxxhaxhax

Pengalaman luar biasa. Dan memberi pelajaran berharga buat saya. Idealnya, HUKUM memang seharusnya BERLAKU SAMA! Dan saya adalah pesakitan yang memang layak dihukum! [haxhaxhax]

Perempuan : “Dari Ruang Domestik ke Ruang Publik”

•April 21, 2011 • 3 Comments

“Kebebasan Kartini sama dan sebangun dengan kebebasan Kartono. Persis segitiga sama kaki. Mungkin ini harus dinamai pemberdayaan manusia.”  [dikutip dari buku Sangkan Paran GENDER]

Sejak gaung emansipasi berkibar di era Kartini, dan akses pendidikan terbuka luas bagi perempuan Indonesia, saat itulah ibaratnya perempuan Indonesia dibangunkan pondasi emansipasi yang terlahir dari inspirasi kaum hawa.

Perempuan Indonesia semakin berkembang. Meranah ruang publik, memainkan banyak peran. Sejumlah perempuan menduduki posisi penting, baik di lembaga pemerintah, parlemen, maupun swasta. Tak sedikit perempuan yang tampil di kancah politik, atau menduduki jabatan kepala daerah. Megawati, salah seorang Presiden Republik Indonesia juga seorang perempuan. Bahkan majikan [bupati] saya kali ini juga seorang perempuan. 🙂

Keberadaan perempuan di posisi-posisi penting pembuat kebijakan seperti ini, setidaknya diharapkan dapat memajukan tingkat keterlibatan perempuan dalam proses politik dan jabatan publik, meningkatkan taraf pendidikan dan layanan kesehatan serta program-program lain untuk mempertinggi kualitas hidup dan sumberdaya kaum perempuan, meningkatkan kampanye anti kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta menyempurnakan perangkat hukum pidana yang lebih lengkap dalam melindungi setiap individu dari kekerasan dalam rumah tangga.

Konstruksi tentang perempuan sering memunculkan dikotomi antara peran domestik dan peran publik. Pada ranah domestik, perempuan mempunyai peran sebagai ibu rumah tangga, sedangkan ranah publik perempuan juga bekerja dan mencari nafkah. Di era demokrasi, seorang perempuan tidak harus memilih salah satunya, tapi bisa memilih untuk menjalankan keduanya. Tetap berhasil di ruang domestik juga sukses di ruang publik. Jika keduanya dipilih, idealnya kedua peran ini harus bisa berjalan selaras. Mengingat peran domestik adalah pekerjaan yang sama nilainya dengan peran publik.

Dalam konteks peran gender, memang laki-laki dan perempuan seharusnya memiliki hak yang sama. Perbedaan di antara mereka hanya terletak pada fungsi biologis secara krodati. Seperti menstruasi, melahirkan dan menyusui. Selebihnya, tergantung pada kapabilitasnya. Kecerdasan berpikir, kemampuan, dan keterampilan menjadi penentu, apakah perempuan atau laki-laki yang layak berperan.

Sayangnya, sosial budaya yang mendarah daging, tak melepaskan para perempuan begitu saja untuk aktif di luar. Kontruksi berpikir masyarakat tentang perempuan yang lemah lembut menjadikan perempuan sebagai sosok yang harus “diistimewakan”, sedangkan laki-laki yang tangguh adalah “pelindung”. Kontruksi berpikir inilah yang membawa peran perempuan -walaupun berhasil menembus ruang publik- tetap saja hanya bisa bertahan di wilayah abu-abu.

Perjuangan emansipasi sendiri seringkali mengabur oleh para perempuan itu sendiri. Ketika emansipasi kebablasan, rumah tangga menjadi taruhan. Beberapa perempuan disibukkan mengejar karier dan jabatan, hingga lalai bahwa dia juga bertanggung jawab pada keluarga, suami, dan anak-anak.

Setidaknya ada beberapa hal yang menjadi ukuran kesuksesan, ketika seorang perempuan memutuskan untuk menjalankan peran ganda, domestik dan publik. Sukses sebagai ibu rumah tangga, pencetus generasi pilihan, dan membentuk keluarga harmonis, lalu sukses di karir. Hal ini bisa menjadi motivasi bagi para perempuan untuk terus berjuang, bahwa perempuan Indonesia mampu berdiri tegak di tengah-tengah, berperan domestik dan berperan di ruang publik.

Perjuangan ini tentu tak mudah. Dan laki-laki adalah partner terbaik bagi perempuan untuk meraih kesuksesan. Perempuan dan laki-laki semestinya menjadi tim yang solid dan handal, membagi peran bersama dan saling melengkapi. Bagimanapun, setelah berdamai dengan dirinya, perempuan harus menciptakan hubungan gender yang harmonis dengan laki-laki.

Akhirnya, kebebasan Kartini sama dan sebangun dengan kebebasan Kartono. Persis segitiga sama kaki. Mungkin ini yang dinamakan pemberdayaan manusia. Selamat Hari Kartini! Salam sukses untuk perempuan Indonesia! *N

“N” -love letter-

•April 18, 2011 • Leave a Comment

“N” represents clever imagination. They have the ability to get to the heart of the matter.

Their ideal profession could be as a reporter, writer or record keeper. They love the written word. One of their prime sources of entertainment is a good book.

“N’s are unshakable in their belief systems. Because they are so staunch in their beliefs, others tend to look at their philosophies and adapt them as their own.

Self-opinionated and positive as to how they go about life, they inspire others to follow.

Loving anything to do with the sensual, they like to touch everything. Smelling the roses takes on a whole new meaning for them.

Needing time to themselves, they love being in nature. Sitting for hour’s outdoors, they are content. Marveling at all creation, they seek to understand all they see.

They seem to be spokesmen for the world. Publicizing all they consider wrong comes from a deep-seated emotional and spiritual consciousness.

They are seen as ambassadors because of their ability to view given subjects. Able to look at the most agonizing problems from an impartial point of view, they help to solve the ills of the world.

Good listeners, they seem to understand all that is told them. People seem to think “N’s” are the best conversationalist around because they quietly sit and listen attentively to what others have to say. Always the student, they are gathering information.

Negative “N’s” are envious of others and what they may achieve. Not above an extra marital affair, when caught they look at their mate with innocent eyes. If their mate was caught in the same position they would not be so tolerant. Jealous to the point of divorce, they push their mate out of their lives.

[from : http://dajuana.com/name-meanings/meaning-of-the-letter-n.html%5D


PRIA-PRIA MISTERIUS

•March 26, 2011 • 2 Comments

Aku sedang menghitung ketukan ritme hujan ketika hape berbunyi nada sirine 911. Nomer yang sama. Tanpa nama. Masih seperti hari-hari sebelumnya, aku tak menggubrisnya. Pernah dia mengirim pesan. Kuatur strategi untuk mencari tahu lebih dalam. Mmmm…dia tak cukup pintar sebagai PRIA.

Gaduh petir menghantar kilat di balik kaca jendela. Nomer itu terus memanggil. Masa bodoh. Kucomot potongan brownis kukus tiramisu marble beku dari kulkas. Kunikmati kemanisan itu dengan pelan. Andai lemon tea mongah di mug dengan pegangan berbentuk Dalmation itu tak keburu hilang panas, mungkin aku enggan melepasnya. Kemanisan itu.

Seperti rasa pahit, rasa manis meninggalkan sensasi yang susah terlupakan. Itu yang kurasakan. Walau kutahu, kemanisan itu telah berlalu. Dan tak akan kembali sama.

“jwb telponku skali saja” bunyi SMS barusan. Nomer yang sama. Tanpa nama. Aku bergeming. Dia bertahan sebagai misteri. Aku pun berlaku sama. Impas.

Sesuai dugaanku. Dia seorang pria. Aku menjebaknya suatu hari, dengan nomerku yang lain. Panggilan terjawab. “Hallo..” Suara pria di ujung sana. Tepat!

Aku pernah bertanya identitasnya. Dia hanya tertawa. Lalu menciptakan kalimat ambigu. Mengombang-ambingkan rasa penasaran. Mmm..dia cukup pintar berdiplomasi sebagai PRIA.

Hujan telah reda. Gonggong anjing milik tetangga belakang rumah. Beberapa kali aku menguap. Capek sekali rasanya. Kubaringkan tubuhku di kasur tanpa seprei. Si Sapi masih menelungkup di depan tv. Biarlah. Aku sedang malas beranjak. Kantuk ini sangatlah dasyat.

Hape kembali berbunyi nada sirine 911. Nomer yang sama. Tanpa nama. Masa bodoh. Sayang jika energiku dihamburkan untuk meladeninya. Dia sangatlah PENGECUT untuk disebut pria!

Aku sedang menghitung ketukan ritme hujan yang kembali tiba. Gaduh petir menghantar kilat di balik kaca jendela. Kukatupkan mata menuju lelap. Aku mengingat dua nama. Di dunia nyata, mereka sama pengecutnya sebagai pria.

Aku ingin tidur cepat malam ini. Tanpa mimpi kupilih. Kan kunikmati semua itu…sebagai MISTERI!

pict : iniapayangakurasa.blogspot.com

Sepoci Teh Mongah

•March 11, 2011 • Leave a Comment

Sepoci teh mongah. Di samping monitor. Dia akan mengetik beberapa kata, lalu beralih menghirup keharuman melati di poci itu. Membiarkan sensasi rasa itu menyusup, pelan, lambat. SESAAT namun NIKMAT. Begitulah perempuan itu menikmati perjumpaan mereka. Dengan pria itu. Tanpa kata!

Di ujung lorong itu, pertama kali perempuan itu melihatnya. Di ujung lorong itu, kedua kalinya perempuan itu menemukannya. Di ujung lorong itu, ketiga kalinya perempuan itu sadar dia memang ada. Di ujung lorong itu, kesekian kali, perempuan itu yakin dia selalu kembali ada. Untuknya. Pria itu kembali!

‎”Aku menepi, bukan lari!” gumam perempuan itu. Jauh di hati dia begitu peduli. Pria itu. Bayangnya saja, perempuan itu hapal lekuknya. Perempuan itu menepi, bukan sembunyi. Di riangnya, pria itu yang dia ingat. Di sedihnya, pria itu yang dia sanjung. “Aku menepi karena aku begitu cinta.” Suara perempuan itu tersangkut di tepi hati. Menyimpannya sebagai rahasia. Sepoci teh meredam gemuruhnya.

Ada sesak di hatinya setiap kali pria itu melintas. Dia tak ubahnya elang di pucuk cemara. Tinggi menjulang. Dan perempuan itu tak lebih seekor cacing yang menggelepar kepanasan tanpa daya mencari lumpur untuk berendam. Jika dia ombak, pria itu adalah karang. Beku, bisu, angkuh. Perempuan itu hanyut dalam gemuruh.

“Suratnya sudah, Mbak?” suara itu muncul tiba-tiba di sebelahnya. Perempuan itu terhenyak. “Eh..iya, bentar!” Buru-buru dinyalakannya mesin printer. Sudah sejak tadi surat itu siap dicetak. Sebelum lamunan itu menyeretnya jauh ke tempat lain. Menyusuri lorong abu-abu di benaknya. Di sana, perempuan itu bisa mencumbu aromanya. Pria itu.

“Ini!” diserahkannya lembaran berkas itu pada temannya. “Jangan melamun saja! Awas kemasukan roh!” temannya itu tertawa menggoda. Perempuan itu tersenyum. Begitulah cara dia menyembunyikan kegetiran.

Dia kembali menatap monitor. Dimainkannya cursor. Menyisir setiap tautan. Status-status lucu dari beberapa teman di halaman facebook. Dia akan tertawa terhibur. Walau banyak juga yang hanya meratapi kesedihan, mengkritik tanpa argumen cerdas, atau mengumpat kasar pada orang yang jelas tak akan membacanya. Manusia sudah semakin aneh.

Beberapa tag note teman belum sempat dia baca. Deretan puisi dan cerita. Bibir perempuan itu  mengukir senyum. Kata menjadi permainan yang sangat mengasyikkan rupanya. Di note-note itu, dia melihat aura jatuh cinta, kegundahan, ambisi, kesepian, pengharapan, amarah, juga pencarian. “Mmm…dunia maya begitu gamblang membuka tabir rahasia dunia nyata,” perempuan itu berpendapat.

Sesekali dia akan memasang video lagu di wallnya. Berbagi kesyahduan. Dibayangkannya orang-orang akan mengekliknya, dan turut menikmatinya. Perempuan itu kesepian. Dia tak pernah menyadarinya.

Sepoci teh mongah di samping monitor. Diseruputnya kemanisan kadar sedang penawar rindu. Keharuman melati menyusup pelan, lambat, sesaat namun nikmat. Dia mengenangnya. Pria itu. Wajahnya menghilang di teguk penghabisan. Tanpa kata!

pict : wisatasemarang.wordpress.com

AKU BICARA

•March 10, 2011 • Leave a Comment
“Tidak ada manusia yang dapat menyimpan rahasia. Jika bibirnya diam, ia berceloteh dengan ujung jarinya. Rahasia membersit dari pori-pori kulitnya.”
Sigmund Freud

Bermain koloni huruf adalah bagian dari caraku menghidupkan hidup. Ketika ujar tak lagi mampu teriakkan perkataan otak, koloni huruf adalah teman setiaku untuk memberi arti dan mengartikan hidup.

Herannya, bermain koloni huruf membawaku pada cemoohan dan pandangan tak lazim. Aku dikatakan aneh dan kumpulan orang yang mengaku diri mereka waras merekom aku untuk mengunjungi psikolog dan psikiater. Aku disebut ‘edan’.

Sayangnya, mereka tak cukup mampu membungkam otak kiri dan kananku. Puluhan, ratusan…jutaan koloni huruf mengalir seiring detak detik. Aku bergeming.

Bukan karena aku keras kepala. Ntah kenapa, semua seakan tak terkendali. Jiwa hidupku enggan berhenti. Aku terus melayang bersama koloni huruf. Itulah tanda aku hidup. Seorang manusia yang ingin selalu bicara…memberi arti dan mengartikan hidup.

Satu rahasia yg tak mampu kucegah menerobos pori-pori kulitku adalah sepenuh hati kucoba…nyatanya…aku tak pernah bisa bersembunyi dari dunia!

pict : teckliong.com