KERONTANG

Malam. Teras, sebuah bangku tua. Perempuan itu duduk bersantai memandang langit gelap. Lampu jalan di tikungan seberang menyela di antaranya. Angkuh. Betapa kecil kehadiran lampu teras yang menyala redup. Dimainkannya smartphone di tangannya yang berjari lentik. Bunyi-bunyi penanda pesan yang masuk. FB, twitter, YM, whatsapp, SMS, email. Yeah, kurang gaduh apa dunia ini. Perempuan itu sigap memainkan jari-jari.

Sibuk, mungkin, begitu yang terlihat. Dipandangnya lagi langit gelap. Disapunya malam yang temaram. Hening. Diliriknya ponsel itu. Bola mata yang lincah. Gundah. Nada-nada penanda pesan masuk saling bersaing. Bising.

Secangkir teh mongah di atas meja. Uap menyembulkan aroma wangi melati baru diseduh. Malam membawa angin tanpa embun. Dingin.

Perempuan itu menghela nafas. Dipandangnya lagi langit gelap. Ditimang-timang smartphone di genggaman. Lima tahun sudah ringtone itu tak pernah berbunyi. Ya, Eien No Ai tak pernah berbunyi, lagi.

Meloncat ingatannya ke senja itu. “Pergilah…” getar suara lirih dari bibir mungilnya terbang menyusup ke udara. Desah nafas kecewa di ujung sana. Dan malam mencatat kepedihan yang tersisa. Rasa itu lepas ikatan. Terbang, melayang, hilang.

Teh mongah teras malam itu. Aroma melati wangi dicumbu bibir. Kau tahu, teguknya tak pernah mampu, aku ulangi, tak pernah mampu. Kerontang. Begitulah.

Ssst…dengar ini. Perempuan itu. Di bangku tua teras itu. Jiwanya lama sudah tak mengenal basah. Kerontang. Jangan bilang-bilang!

**

“Seperti pohon itu, telah lama hatinya meranggas…” laki-laki itu tersenyum padaku. Getir. Nada sumbang dari hati lelaki yang kehilangan. Aku merasakannya.

“Aku pikir aku bisa mengundang hujan. Untuknya…” laki-laki itu masih tersenyum. Aku terdiam, membiarkan rasanya menggeliat. Ke sana. Ke bayang perempuan itu.

“Dan aku tak sepandai itu…” laki-laki itu tersenyum menatapku. “Ambillah!” Sebuah angsa merah kecil dia sodorkan. Ragu-ragu, kuraih origami itu dari tangannya. “Cantik..” pujiku lirih.

“Hahaha… bahkan dia tak berhenti mengolok. Angsa buatanku, dibanding dia, masih kalah cantik…” Aku masih menatapnya. Laki-laki itu. Asap tembakau mengepul mengiring tatap matanya. Jauh. Menjelajah kenangan.

***

Di antara bintang malam itu, rasaku melesat jauh. “Hujan, hatiku juga merindu. Kamu…” Lirih.

 
Advertisements

~ by Nuning Silowa on October 6, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: