KERONTANG

•October 6, 2012 • Leave a Comment

Malam. Teras, sebuah bangku tua. Perempuan itu duduk bersantai memandang langit gelap. Lampu jalan di tikungan seberang menyela di antaranya. Angkuh. Betapa kecil kehadiran lampu teras yang menyala redup. Dimainkannya smartphone di tangannya yang berjari lentik. Bunyi-bunyi penanda pesan yang masuk. FB, twitter, YM, whatsapp, SMS, email. Yeah, kurang gaduh apa dunia ini. Perempuan itu sigap memainkan jari-jari.

Sibuk, mungkin, begitu yang terlihat. Dipandangnya lagi langit gelap. Disapunya malam yang temaram. Hening. Diliriknya ponsel itu. Bola mata yang lincah. Gundah. Nada-nada penanda pesan masuk saling bersaing. Bising.

Secangkir teh mongah di atas meja. Uap menyembulkan aroma wangi melati baru diseduh. Malam membawa angin tanpa embun. Dingin.

Perempuan itu menghela nafas. Dipandangnya lagi langit gelap. Ditimang-timang smartphone di genggaman. Lima tahun sudah ringtone itu tak pernah berbunyi. Ya, Eien No Ai tak pernah berbunyi, lagi.

Meloncat ingatannya ke senja itu. “Pergilah…” getar suara lirih dari bibir mungilnya terbang menyusup ke udara. Desah nafas kecewa di ujung sana. Dan malam mencatat kepedihan yang tersisa. Rasa itu lepas ikatan. Terbang, melayang, hilang.

Teh mongah teras malam itu. Aroma melati wangi dicumbu bibir. Kau tahu, teguknya tak pernah mampu, aku ulangi, tak pernah mampu. Kerontang. Begitulah.

Ssst…dengar ini. Perempuan itu. Di bangku tua teras itu. Jiwanya lama sudah tak mengenal basah. Kerontang. Jangan bilang-bilang!

**

“Seperti pohon itu, telah lama hatinya meranggas…” laki-laki itu tersenyum padaku. Getir. Nada sumbang dari hati lelaki yang kehilangan. Aku merasakannya.

“Aku pikir aku bisa mengundang hujan. Untuknya…” laki-laki itu masih tersenyum. Aku terdiam, membiarkan rasanya menggeliat. Ke sana. Ke bayang perempuan itu.

“Dan aku tak sepandai itu…” laki-laki itu tersenyum menatapku. “Ambillah!” Sebuah angsa merah kecil dia sodorkan. Ragu-ragu, kuraih origami itu dari tangannya. “Cantik..” pujiku lirih.

“Hahaha… bahkan dia tak berhenti mengolok. Angsa buatanku, dibanding dia, masih kalah cantik…” Aku masih menatapnya. Laki-laki itu. Asap tembakau mengepul mengiring tatap matanya. Jauh. Menjelajah kenangan.

***

Di antara bintang malam itu, rasaku melesat jauh. “Hujan, hatiku juga merindu. Kamu…” Lirih.

 

Anyelir Merah Tua

•July 27, 2011 • 1 Comment

ANYELIR MERAH TUA. Mengingat keegoisan cinta dari sebuah gambar di kaki. “Kau tak pernah mengerti. Seperti aku yang tak mau memahami!!”  Itu dulu …

I

Perempuan itu duduk terpekur, di sana, di atas kasur seprei putih baru diganti. Aroma lavender menyerbak dari alas dia duduk. Wangi. Tapi bukan itu yang tengah dia renungi, bukan, bukan laverder. Ah, itu aroma pengusir nyamuk. Ini tentang bunga yang lain. Anyelir …

II

Sudut kota. Minggu. 16 : 33

“Warna merah??” laki-laki itu mengangkat kaleng cat kecil dengan tangan kanan. Sebuah kode warna merah di labelnya. Semerah isi botol softdrink di tangan kiri yang tinggal setengah.

“Merah cerah …” perempuan itu tersenyum, menegaskan.

“Kau tengah mengaguminya? Dia pria beruntung…” kuas kecil itu menggores halus di kaki kiri si perempuan. Membentuk lekukan-lekukan saling terpaut.

“Gambarkan aku untaian anyelir yang eksotik!” perempuan itu tersenyum penuh teka-teki.

“Siapa pria beruntung itu???” laki-laki itu berhenti sejenak, menatap si perempuan yang hemat dengan kata. Dia masih betah tersenyum. Penuh teka-teki.

III

Perempuan itu duduk terpekur, di sana, di atas kasur seprei putih baru diganti. Dagunya bertumpu pada lutut kiri yang tiba-tiba serasa tak kokoh lagi. Diusapnya sebuah gambar di ujung kaki kiri, goresan sore tadi. Anyelir merah. “Ah …” perempuan itu menghela nafas tertahan. Ada sesak tertinggal di ulu hati.

IV

“Kau serius membuatnya??” suara bernada tak percaya di ponsel.

“Tentu …” perempuan itu tersenyum, penuh teka-teki.

“Buat apa?? Itu tak berguna. Kau hanya butuh kata-kata. Padanya …” suara nerocos mengeras di speaker ponsel. Khas perempuan tak sabaran.

“Ini tak semudah berbicara denganmu, Nona …”

“Perempuan aneh …”

“Dan kau lebih aneh karena bersahabat dengan perempuan aneh …” perempuan itu tertawa. Lepas.

“Dia berhak tahu …”

“Aku akan memberitahu .. nanti.”

V

Stasiun pagi. 07 : 05

“Apakah kota ini tak berarti untukmu??” perempuan itu membuang muka ke samping, menatap jauh tanpa fokus, disembunyikannya rasa galau bermain-main sejak tadi.

“Kota ini sangat berarti. Terlebih penghuninya…” laki-laki itu bersandar cuek di pilar hijau tepi ruang tunggu.

“Kau jadi pergi??” perempuan itu memalingkan muka menghadapnya, laki-laki itu. Ada cemas tersirat samar di mukanya yang oval.

“Tak ada yang menahanku di sini …” laki-laki itu menatapnya balik, tersenyum penuh arti.

Perempuan itu diam. Bibirnya dipaksa merapat. Suara bising kereta tiba di jalur 2. Hatinya lebih bising di dalam sana.

“Sssttt … gambar di kakimu indah. Aku suka!” laki-laki itu mengerling nakal. “Daaa..” dia berlalu. Sosoknya menghilang ditelan gerbong. Perempuan itu bergeming di tempatnya. Aku telah kehilangan, batinnya.

Sudut kota. Minggu [dua tahun setelahnya]. 16 : 15

“Merah tua????” laki-laki itu memandangnya penuh tanya, perempuan itu.

“Benar ..” dia tak banyak berubah, dari minggu dua tahun lalu, hemat kata.

“Kau sungguh dalam mencintainya. Pria itu sungguh beruntung. Apakah dia pria yang sama???” laki-laki itu bicara sambil lalu, kuas kecil asyik menari, menggores halus untaian bunga kesayangannya. Anyelir ..

“Dia bukan pria beruntung …” suaranya mendesis lirih. Mengejutkan. Laki-laki itu mengerem laju kuasnya. Menahannya sesaat. Tanpa merubah arah pandang.

Perempuan itu menatap langit. Tersenyum penuh teka-teki.

“Aku telah membuatnya tidak beruntung. Dengan mencintainya. Cinta tanpa kata ..” perempuan itu tertawa kecil. Ada galau menyeruak di sana. Galau bercampur perih.

“Gambarkan aku untaian anyelir yang eksotik!!” perempuan itu tersenyum, penuh teka-teki. Kuas kecil itu kembali menari. Menggores halus untaian bunga kesayangannya. Anyelir … kini telah memerah tua.

foto : [lupasumbernya]

BATAS : Dari Sela Teralis Penjarakan Pandang

•July 25, 2011 • 6 Comments

Dari sela teralis penjarakan pandang …

“Aku tak ingin menyakitimu lagi …” Laki-laki itu terlalu pengecut untuk memandangku. Begitulah aku memaknai. Raut mukanya tak bisa kuselidik. Hanya suara samar, lirih, ragu-ragu, mengingatkan aku pada tenggorokanku yang sigap menahan suara, saat ada perasaan tidak percaya diri mencampakkan nada-nada denting melodi di ruang latihan. Aku takut sumbang. Laki-laki itu sama.

Kau tak pintar mencari alasan! Begitulah benakku memaknai. Bodoh. Kau lelaki bodoh. Begitulah batinku mengumpat. Gemuruh. Dadaku bergemuruh. Dan aku tersenyum, manis sekali.

“Terima kasih kau datang. Mau kopi???” tak dijawab.

“O iya, aku tadi ke toko kaset. Ini untukmu …” kusodorkan album The Heart of Everything milik Within Temptation itu padanya. Sebuah kata di cover album berkelebat menusuk penglihatananku. Frozen. Begitulah aku tiba-tiba. I can’t feel my senses.

“Thanks …” dia bergeming, dengan ekspresi yang sama, gelisah yang tak bisa kuselidik, di sofa merah kemarin baru kubeli, khusus untuk merayakan ulang tahunnya, laki-laki itu, bahkan dia tak tahu ini. Dia tak pernah menanyakannya. Sofa itu.

“Tadi aku sudah belanja. Aku akan undang teman-teman. Kita rayakan ultahmu di sini …”

“Sudahlah, K! Tolong kamu mengertiii!!” dia berteriak, suaranya meninggi.

Prang!! Secangkir kopi hitam berhamburan di karpet warna pelangi. All colors seem to fade away. Mataku basah. Kupunguti serpihan cangkir pecah tak lagi punya rupa di bawah kakiku. Begitulah caraku menyembunyikan air mata. Menyibukkan diri.

“Kita sudah berakhir …” dia lebih melunak kali ini.

“Aku mengerti …” bibirku bergetar. Seperti serpihan cangkir pecah tak lagi punya rupa di bawah kakiku. Begitulah aku memaknai. Hatiku telah rusak. Useless.

Laki-laki itu berdiri di sana, menatapku. Rahangnya masih menarik seperti tiga tahun lalu aku pertama kali melihatnya. Belah dagu kecil kesukaanku. Semua masih sama. Kecuali satu, perasaannya. Dia bukan lagi lelakiku. Aku tersenyum, manis sekali.

“Maaf ..” suaranya menghilang samar bersama mataku yang memburam. I can’t reach my soul.

*

Aku Menepi Bukan Lari

“Kemarilah!” begitulah kau menginginkanku.

“Aku tak bisa …” begitulah bunyi batas keinginanku.

“Melompatlah!” sungguh kau pemberontak.

“Itu akan menyakitkan …” sungguh aku pengecut.

Perempuan itu menatapku penuh harap. Ah, cukup sudah. Aku tak ingin menyakitinya … lagi. Tiga tahun bukan waktu yang pendek untuk memperjuangkan ini. “Kita berbeda, K! Kita beda.

“Bukankah Tuhan mengirim kita dengan kondisi yang sama? Sama-sama telanjang…” begitulah perempuan itu pernah bertanya.

“Ya. Kita pun akan kembali dengan kondisi yang sama …” aku meneguhkan.

“Lantas, kenapa kita tak boleh bersama?” dia menatapku. Memohon penjelasan.

Maaf, K. Aku tak tahu!

Dia menangis, perempuan itu, pekan lalu, saat mereka menolak hubungan kami. Ini pembicaraan ke-3 kali dalam 3 tahun ini. Dia selalu menangis. Tidak hanya 3 kali. Tapi berkali-kali. Hatiku lelah melihatnya.

“Kemarilah …” aku memeluknya, perempuan itu, membiarkan isaknya menghujam dadaku. Agar dia tenang, agar dia nyaman. Aku tahu kau sakit, K. Di dalam sana, aku lebih sakit. Aku mencintaimu!

Ah, cukup sudah. Aku tak ingin menyakitinya … lagi.

**

Batas. Ia bukan jarak.

Ia hanya seperti kata cukup. Mengisyaratkan sesuatu hanya “sampai di sini.” Seperti keset di depan pintu, yang merupakan tanda bahwa sebentar lagi kau akan memasuki rumah. Seperti Handphone yang dimatikan, ketika ingin menikmati waktu sendiri untuk membaca buku. Seperti tepi pantai dan laut lepas.

Terkadang ia seperti spasi, seperti koma, seperti tanda tanya, atau bisa jadi adalah titik. Tergantung kau akan sampai pada bagian yang mana. Mungkin saat ini kita sedang berada pada sebuah batas. Terdapat garis yang kita buat untuk diri sendiri. Ada kata “cukup” yang disodorkan ke permukaan. Batas seperti mengingatkan bahwa, ada masa kita pernah bersama. Supaya kita tidak lupa bahwa kita pernah mencinta tanpa “batas” itu. Kini tak lagi sama.

Kita masih saling melihat, tapi tak akan bersentuhan. Kita masih saling menginginkan, tapi tak ada lagi usaha sama seperti waktu itu. Kita masih berdiri di tempat yang sama, tapi hanya melambai dari kejauhan. Kita masih melewati tempat yang sama, tapi hanya bau parfummu yang tercium. Ia mungkin pemisah. Yang menjalankan tanggungjawabnya sekaligus sebagai pelerai. Mengajarkan kita merenung dan mengambil waktu. Ia bukan jarak, juga bukan sebagai pelarian. Hanya sebagai satu dunia, hanya cukup, hanya sampai di sini, tidak bisa lagi, tidak sanggup lagi, tidak mampu. Beberapa bahkan akan diiringi oleh kata “Tidak.”

Ia adalah “antara” yang membuat kau dan aku akan sama-sama melihat pada hitam mata kita, lalu berucap “sekian dan terima kasih.”

***

Dari sela teralis penjarakan pandang …

Sharon den Adel mengirim nada-nada melengking lewat mesin pemutar CD. Angin berhembus di ujung senja mengusik anak poni. I can’t feel my senses. I just feel the cold.

“Aku sedang memikirkanmu dengan otak. Bukan dengan hati. Hatiku telah kau rusak. Useless!” Aku tersenyum, manis sekali. [BKN]

BATAS : Dari Sela Teralis Penjarakan Pandang Sampah by KinanthialLeya Yunadi & Nuning Silowa

Nice picture. Thank alot vo Bondan Prahasta

rapuh, angkuh, dendam, karam

•June 23, 2011 • Leave a Comment

diam

dan biarkan senja menelan bulat

dendam

sekarat

karam

lumat

 

pongah

dan biarkan senja membakar lapuk

rapuh

menusuk

angkuh

membusuk

 

perempuan ; saat kala ditalak senja

 


JAUH

•June 22, 2011 • Leave a Comment

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

gaduh, datanglah

cumbu aku dalam keluh

pasir putih, kerang letih, gelombang lirih

begitulah aku tengah luruh

riuh, kemarilah

rayu aku dalam jenuh

buih bisu, terumbu pilu, karang beku

begitulah aku tengah angkuh

luruh

melarung

angkuh

meraung

jauh, mendekatlah

 

 

 

Rejeki Bulan Juni

•June 7, 2011 • Leave a Comment

aku menatapnya
senyum manis penawar rindu
gelak tawa peredam pilu sayatan kepedihan itu
darimu…para sahabat
dari situ…bahu terbidang
dari waktu…terlebih diberi
dariku…tersadar tuk kembali berdiri

aku menerimanya
recehan mengukir senyum kuncup bermula
lembaran menoreh tawa luas dikembang
darimu…rentetan huruf mencoba diberi arti
dari situ…imajinasi disentuh
dari waktu…liku hidup terjalani
dariku…setiap tetes keringat menggeliat perlahan

aku menikmatinya
sesuap kalori mengganti amunisi
seteguk mineral pengusir dehidrasi
darimu…karya mencoba ditoreh
dari situ…bumi dipinjamkan tuk dipijak
dari waktu…perseteruan tertakhlukkan dengan semangat menderu
dariku…nafsu memburu merayu dituju

seperti rintik gerimis bernada tak tentu di langit kelam saban hari
begitulah aku memaknai rejeki di bulan Juni

foto : syuqie.wordpress.com

[sudah ditulis 09 Juni 2010 di Kediri]

Lintang Iki

•June 1, 2011 • Leave a Comment

Lintang iki lintanging ati

Wanci wayah wengi rasaku sesingidan ing sajroning manah

Lintang iki lintanging ati

Wanci wayah wengi rasaku tansah lumaku sajroning sayah

Lintang iki lintanging ati

Wanci wayah wengi rasaku jejogedan sajroning lungkrah

Lintang iki lintange ati

Tansah gumebyar prasasat tan kendhat dening congkrah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

pict : http://www.astropix.com